
Terharu, kesal, jengkel, muak dan sebagainya ekspresi kejiwaan terhadap penguasa negeri ini, ketika tidak sesensitif ketika masa kampanye dulu. Wibawamu tak secerdik otakmu, ketika rakyat tak bias lagi menyampaikan aspirasinya kepada orang nomor satu negeri ini. Tak ada pembenaran lagi untuk saat ini yang dapat diterima dari fragmatisnya lakonnya. Saat aspirasi secara langsung saja tak ingin didengarnya, keluhan tak lagi ada gubrisannya.
Tuntutan sederhana yaitu “Keadilan” telah dilontar kepada patung yang pantas disimbolkan (monyet ragunan). Aneh bukan, kesombongan yang ia dapat dengan rasa bangga akan kebesarannya. Keadilan di Negeri ini adalah untuk segelentir kaum pilihannya (bukan rakyat kecil).
Negara ini belum mampu untuk menjalankan aspirasi itu, kemenangan Negara ini (merdeka) telah punah. Apakah kemenangan pilpres tahun lalu dengan 60% suara itu dari golongan dia (bukan rakyat kecil) yang mengamanatkan padanya, tidak mungkin lebih dari setengah jumlah penduduk negeri ini masih termasuk daftar kemiskinan.
Pak indra Azwan menunggu selama puluhan tahun akan “keadilan negeri ini”, bila keluhan sederhana seperti ini tak ada lagi yang mau mendengar pada siapa lagi rakyat kecil (kita) mengadu. “Aksi jalan kaki dari malang-jakarta” , setiba di Jakarta di tunggu di Istana tak kunjung ada sambutan sampai ke kediaman Beliau (heeech) tetap saja sifat acuh tak acuh yang ia dapat. Sampai akhirnya disampaikan keluhan itu kepada monyet ragunan (symbol yang tepat).
Selamat jalan buat pak Indra Azwan menempuh jalan pulang (dengan rasa yang tak terungkapkan lagi), kita tunggu pengadil dunia yang layak atas musibah ini.
“Sampai kapan ini terjadi, tak ada lagi keadilan yang tersisa ingatan akan mimpi”